Sabtu, 26 Agustus 2017

Kisah-kisah senja

Dan mentari seakan menusuk-nusuk kulit ari ketika aku tertegun dalam khayal. Membelakangi matahari dan tidak berusaha menatapnya. Mengkhayal tentang segala kebahagiaan dunia. Yang hanya sekadar imajinasi yang tak pernah nyata. Aku yang tak bahagia, aku yang selalu tampakan wajah penuh dengan air mata, dengan nafas yang sesak tersendat oleh kepedihan ini. Selalu saja selalu saja menjadi naungan kepedihan.
Aku pernah jatuh dalam cinta, cinta pada seorang wanita yang penuh dengan aroma kebahagiaan. Sorot-sorot matanya tampakan beragam warna kebahagiaan yang tak pernah sekalipun merujuk padaku. Ia hanya melihat apa yang tampak seperti hidupnya. Namun aku yang tlah buta karna cintaku, menghampirinya. Berusaha masuk dalam sorotan matanya meski hanya sejenak. Kami tak sejauh langit dan bumi ataupun timur dan barat. Jarak kami hanya sebatas jengkal, namun tak pernah tampak aku dalam cahya matanya. Tahukah kau, kau tlah lukai hatiku dan matikan harapku. Apakah sangat tak pantas aku berada dalam cermin retina matamu?
Laut seakan meneriakan kepedihanku dalam tiap desir ombak yang menerpa pantai ini. Menyapu tiap kebahagiaan yang terdapat pada butiran pasir putih menghampar. Terduduk aku ditepiannya, menatap jauh pada sang bulan yang seakan menertawaiku. Gelap selimuti bumiku, tanpa kebahagiaan, tanpa senyuman, hanya teori tentang air mata. Tiadakah surga yang tercipta untukku? Berapa massa air mata yang harus ku keluarkan tuk bahagia? Berapa banyak lantun tangis yang harus ku panjatkan untuk sebuah senyuman?
Dan matilah.

Rabu, 16 Agustus 2017

Tentang

Sesaat setara dengan tanah
Setara dengan udara
Seraya saling tatap dengan senja
Saling menyinari diantara cinta
Tangan yang saling meraba tapak tanganmu
Kadang jenuh dengan malam
Namun tetap terpaku akan rembulan
Kami saling hilang
Menyesap diantara asmara
Larikan diri dari senja
Yang makin abu
Kami saling memyambung kekosongan
Mengisinya dengan berjuta kata
Yang sesaat lupa sesaat tersentuh
Sesaat cinta
Tentang kami yang hilangkan malam ini
Menjadi api jadi jadi
Tentang rumput kering yang riang
Disentuh angin musim kemarau
Saat bintang hanya tampakan satu mata
Kami adalah kau dan kau adalah api
Kami tanpa kau adalah api tanpa kami
Saling hampa tak berudara
Tentang ketidaksetaraan dunia
Tentang hati kami yang masih tak setara
Tentang kata kata ini yang tak jadi anutan
Tak pernah jadi legenda
Layaknya pahlawan yang melupakan namanya