Tahu tidak mana penulisan yang benar antara Ramadan dengan Ramadhan? Kadang kalau tidak benar-benar mengetahui tentang bahasa Indonesia orang pasti akan mengira bahwa kata Ramadhan adalah kata yang benar, namun ternyata tidak. Kata yang benar dalam penulisan bulan suci tersebut adalah Ramadan. Mengapa? Karena hal ini disebabkan dalam bahasa Indonesia yang tidak mengenal konsonan ganda. Bingung bukan? Tapi inilah kebenarannya, mungkin anda anggap salah pendapat ini karena di banyak tempat seperti buku, pamflet dan lain sebagainya menuliskannya dengan kata Ramadhan. Tetapi, yang benar itu Ramadan ya!
Kebimbangan yang mungkin terjadi lainnya adalah tentang seberapa cinta anda terhadap Indonesia. Bukan semata-mata saya anggap anda tidak cinta Indonesia, tapi saya bingung mengapa terkadang ada orang yang mengatakan cinta terhadap negeri ini tapi menggunakan bahasa Inggris? "I love Indonesia" mengapa harus bahasa Inggris jika dalam bahasa Indonesia sendiri terdapat kata "Cinta" yang sama artinya dengan "Love". Kenapa harus memakai bahasa orang lain jika bahasa sendiri bisa mengungkapkannya? Bingung ya?
Selanjutnya, bagaimana sih, seharusnya penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dikehidupan sehari-hari? Saya pun bingung dan tidak melaksanakan hal yang benar dalam hal ini. Karena dalam komunikasi yang terpenting adalah maksud dari apa yang disampaikan bukan tentang benar tidaknya bahasa yang digunakan. Tapi ada baiknya jika penggunaan bahasa yang benar ini dijalankan supaya terkesan lebih sopan. Tapi, dalam hal ini harus melihat situasi, jangan sampai anda menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar ketika anda berada di pasar. Mengapa demikian? Karena itu merepotkan penjualnya.
Lantas kebimbangan apa lagi yang anda bimbangkan tentang bahasa Indonesia?
Kamis, 13 Juli 2017
Kebimbangan berbahasa Indonesia
Jumat, 07 Juli 2017
Batas waktu
Dengan penuh cita ku sampaikan
Ku alunkan ku lambaikan
Sebuah jalan saat kita bertatap
Disampingnya terdapat semak manja
Bebatuan hitam yang terpaku
Dengan udara yang meraba
Sebagaimana kata tak terabaikan
Tak pula diminati orang
Sekaku ranting di pohon itu
Namun jawabmu begitu halus
Begitu lembut seperti kapas dalam tempurungnya
Pada hari itu menurunlah cita
Layaknya buta dengan warna
Hanya dia yang penuh dengan warna cinta
Lewati arus di batasan waktu
Menua hingga waktu menghentikannya
Langganan:
Postingan (Atom)